Rabu, 24 November 2010

19 Tahun 11 Bulan 30 Hari 23 Jam Pencarian Cinta Abadi

19 Tahun 11 Bulan 30 Hari 23 Jam Pencarian Cinta Abadi
Oleh : Crysta Aditya Rachman

Tujuh hari setelah kematian dua karibku,Akbar dan Rasyid.Keduanya saling bunuh hanya karena seorang gadis,Kholifah.
Akbar terbunuh oleh Rasyid,sedang Rasyid habis dirajam oleh orang kampong.Ia konyol.Ia memperkosa Kholifah lantarah cintanya ditolak.Saat terakhir ia berbisik padaku,”Kau beruntung,Saudaraku.Kholifah cinta Engkau”.
Beberapa hari setelah kematian mereka,orang kampung menyuruhku bertanggung jawab atas kematian mereka.Aku di dakwa tak mampu melerai mereka.Aku diusir dari Tamir,tempat lahirku dan tempatku dibesarkan.
“Konyol”,batinku.

Kini kakiku menginjak daerah Khalbi,daerah subur di utara Tamir.
Baru saja memasuki daerah ini,mataku sudah terhibur oleh hamparan hijau pohon apel.
Tiap tangkainya dihiasi oleh butir apel yang berkilau indah,seperti kilauan permata Tamir.
Aku lalu menghampiri kebun itu.Damai sekali,hawa panas yang dari tadi memayungiku kini tak ada.Di sebelah pohon apel terbesar,mengalir sungai kecil yang jernih airnya.Airnya mengalir lembut sekali.Kubasuh mukaku,kurontokkan debu di wajahku sisa perjalanan.
Segar,sepeti air surga yang diceritakan kitab Allah yang sering kubaca.
Aku bersandar di pohon besar tadi.Di tengah lamunanku,aku melihat sebuah apel yang ranum yang lepas dari tangkainya di lembutnya aliran sungai.
Aku mengambil apel itu dengan tongkatku.
“Nampaknya sudah sedikit busuk”,gumamku.
Saat itu yang terbesit hanyalah untuk segera memekannya.Satu,dua,tiga.Semua habis hanya dengan enam gigitan.Aku ungin lagi,benar-benar ingi lagi.

Dengan bermodal antusias dan sedikit uang aku hendak membeli beberapa apel untuk bekal.Di dekat ujung sungai ada seorang pria dengan sorban dan jenggot cukup lebat,ia pemilik kebun.Terlihat dari rasa hormat dari beberapa pekerja.
“Tuan,tadi aku menemukan apel di sungai lantas memakannyaBolehkah saya membelinya beberapa lagi?”.
Pria itu bermuka masam.Berdiri membersihkan pantatnya dari tanah.
“Tuan”,panggilku.
“Bagaimana mungkin Saudara memekan yang bukan hak Saudara.Bukankah Saudara umat Muhammad yang kata orang berakhlak mulia itu?”.
“Saya menemukannya di sungai,bukankah itu hak saya.Saya tidak mencurinya.”,belaku.

“Apel itu jatuh dari pohon yang tertanam di kebun saya.Sungai itu pun mengalir di kebun milik saya,jadi…”.
“Jadi apa?”
“Saya tidak ridha atas itu”,hardiknya.
“Lantas apa yang harus saya lakukan untuk menebusnya?”.
“Bekerja di kebunku selama dua puluh tahun…..Tanpa upah”.
Perkataannya itu mengagetkanku.Terlebih kata-katanya yang terakhir.
“Bisakah…”.
“Tidak!”.
Ouh…mungkinkah dunia ini sudah gila.Akukah yang gila?Diakah?Entahlah.
Bagaimana mungkin sebuah apel yang sepertiganya busuk harus ditebus dengan dua puluh tahun keringat.
“Baiklah”,aku menyanggupinya.

Aku menghabiskan waktuku sudah sembilan belas tahun sebelas bulan tiga puluh hari dan dua puluh tiga jam di sini.Badanku yang sebelumnya tak begitu berisi,kini semakin tak berisi.Malah nyaris hanya meninggalkan tulang dan kentut.Lenganku penuh tonjolan urat,tanganku kasar.Keriput mulai menjamah wajahku.Hah…sudahlah,ini tak berguna.Bagaimana aku bias menemukan cintaku dengan keadaan seperti ini.Bahkan Kholifah yang sudah tak gadis lagi pun pasti enggan menerima pinanganku.

Ouh..masa depanku suram hanya karena pria bejenggot yang bahkan namanya pun aku tak tahu.Yang ku tahu tentangnya hanyalah di mana ia tinggal dan sebutannya,”the ass kicker”.
Ya.Karena ia sangat suka menendang pantat pekerjanya yang bersalah.Termasuk aku.

Dijam terakhir kebebasanku itu,aku menemui the ass kicker di rumahnya.
Saat menemuiku,ia memesang wajah yang masam lagi.Sama saat pertama ia bertemu denganku.Dan sama saat pertama aku bertemu dengan dia.Firasatku mengatakan bahwa ia akan berulah lagi.Benar saja,ia memeintaku menikahi putrinya.Putrinya yang bungsu dan tuli.Oh bukan,putrinya yang bungsu ,tuli,dan buta.Zaman apa ini?Sepotong apel yang nyaris busuk mendatangkan dua puluh tahun keringat tanpa upah dan seorang istri yang demikian itu.
Itu membuat mentalku rontok.Pemuda paling digandrungi di Tamir masa depannya suram.Huf..
“Baiklah..”,keluhku tak rela.

Aku melempar pandanganku ke arah kebun,melepaskan pikiranku yang penuh.Ingin rasanya kukeluarkan otakku ini dari tempatnya,lalu kucuci dari semua ini.Pak tua itu pun keluar membawa anak gadisnya yang diceritakannya tadi,yang sebelumnya masuk dan mengatakan bahwa namanya Zaid.Zaid bin Rachman.

“Ini putri bungsuku yang kuceritakan”.
Rasa kagum setengah tak percaya membayangiku.Bagaiman tidak?Gadis yang dikatakannya buta dan tuli itu cantiknya mewakili lima,eh bukan,sepuluh Kholifah.
Dia pun tidak buta,terbukti saat ia mampu berjalan keluar sendiri dari rumah secara wajar.
Dan satu lagi,dia tidak tuli.Saat ayahnya yang sedikit gembul itu menyuruhnya masuk,ia merespon dengan cepatnya.
“Tuan,Tuan bilang putrid Tuan buta dan tuli”.
“Benar.Bukankah Kau melihatnya?”.
“Ia tidak seperti itu,ia cantik dan lembut.”.
“Ia memang buta,buta akan kemaksiatan penduduk Khalbi.Dan ia juga tuli,tuli akan bualan kosong penduduk Khalbi”.
Aku berpikir,bagaimana ia akan menikahi seorang lelaki gagal yang hitam kulitnya.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan”,sahut Tuan Zaid.
“Ia pantas bagimu,karena kau ikhlas dalam rela berkorban hanya demi hal sepele.Ia sudah lama menanti seorang pria sepertimu”,ungkapnya.
Perkataan Tuan Zaid yang baru saja ia katakan benar-benar membuat rontok mentalku.

“Lalu bagaimana,kau mau menikah dengannya?”.
Aku diam saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar